Senin, 29 April 2013

Mandate of Heaven episode 1

Judul lain : The Fugitive of Joseon/Heaven's Order
Genre : Historical, Thriller, Politic, Medical
Episode : 20
Produksi : KBS2
Tayang : Rabu-Kamis 21:55

Cast
Lee Dong Wook as Choi Won
Kim Yoo Bin as Choi Rang
Song Ji Hyo as Hong Da In
Im Seul Ong as Crown Prince Lee Ho, later King In Jong
Park Ji Young as Queen Moon Jung
Song Jong Ho as Lee Jung Hwan
Yoon Jin Yi as So Baek

Choi Won’s family
Kang Byul as Choi Woo Young
Jang Yong Bok as Choi Chang Son
Go In Bum as Choi Hyung Goo
Yoo Chae Young as Geum Ok

Royal Medical Staff
Choi Phillip as Min Do Saeng
Kim Mi Kyung as Jang Geum

dan masih banyak lagi.

Notes : Masa pemerintahan Raja Jungjong - Injong - Myeongjong. Era Dae Jang Geum dan sekitarnya.

Episode 1
Choi Won melarikan diri bersama putrinya, Choi Rang dari kejaran pasukan pemerintah. Choi Won terus berusaha lari.
Di satu tempat, seseorang tampak sedang melukis dengan tenang. Goresan kuasnya rapi dan indah.

Pengejaran itu sampai ke tengah hutan. Choi Won menggendong Rang dan memacu kudanya sekencang mungkin.
Kapten Uigeumbu melepaskan anak panah ke arah Choi Won. Anak panah itu melesat dan mengenai kuda Choi Won, membuat ayah-anak itu jatuh terjungkal. Choi Won berusaha keras melindungi Rang.
Orang itu terus melanjutkan lukisannya. Seperti lukisan bunga yang indah.

Choi Won minta Rang sembunyi. Choi Won janji akan kembali dan menemukan Rang.
Choi Rang memegang erat lengan ayahnya. Ia tidak mau berpisah dengan ayahnya. Pasukan pemerintah menembakkan panah lagi dan salah satunya mengenai lengan kiri Choi Won.

Sekarang orang itu mulai mewarnai lukisannya, dengan warna merah darah. Dari busana dan tangannya, kita bisa menebak kalau orang itu adalah seorang wanita dan dari golongan kerajaan.
Choi Rang ketakutan melihat lengan ayahnya yang terluka. Rang menangis, kalau aku terus bersama ayah, apa ayah akan mati?
Choi Won terpaksa mengangguk. Sebenarnya ia ingin Rang tidak ikut terbunuh bersamanya.
Rang melepaskan pegangannya. Ia langsung memunggungi ayahnya.
Choi Won mematahkan anak panah di lengannya dan Rang menangis terisak. Choi Won lari.



Pasukan mengejar dan menembaki Choi Won dengan anak panah. Choi Won tersudut di pinggir jurang.
Rang menangis : Aboji..

Wanita bangsawan itu adalah Ratu Munjeong. Ia menyelesaikan lukisannya dan tersenyum puas.
Choi Won tidak punya pilihan, ia melihat ke arah langit dan memutuskan melompat ke dasar jurang. Layar langsung gelap. (Adegan pembukanya mirip TPM)
Beberapa waktu lalu.
Choi Rang mengamati teman-temannya yang sedang main di sungai kecil. Mereka sedang berusaha menangkap ikan. Rang tertarik, ia ingin ikut main dengan mereka. Rang mengangkat roknya dan jalan ke arah air.
Teman2nya langsung menghalangi Rang, pergi.

Rang tidak mau pergi. Ia ingin main dengan mereka. Temannya kesal, apa kau mau muntah darah dan pingsan lagi? Ibuku melarangku main denganmu karena kau selalu sakit.
Anak2 mengejek Rang, kau tidak bisa main karena sakit.

Rang : Aku baik-baik saja. Aku tidak sakit lagi. Aku sudah jauh lebih baik.
Anak-anak itu tidak percaya, kau bohong. Rang berkeras, ia tidak bohong. Ayahku sudah menyembuhkan penyakitku.

Mereka mengejek Rang : Bagaimana mungkin kau bisa pulih hanya dalam beberapa hari, apa ayahmu adalah Buddha hidup?

Rang menyilangkan tangannya (haha ngegemesin banget anak ini), ayahku adalah tabib kerajaan yang paling ahli dalam hal akupuntur di istana. Ayahku bahkan menyembuhkan penyakit Yang Mulia. Jadi, apa kalian pikir penyakit kecilku ini tidak bisa disembuhkan?

Anak-anak itu mulai ragu, bagaimana mungkin? Kau sudah tidak sakit lagi? Rang meyakinkan mereka, tentu saja. Sekarang, aku bisa main dengan kalian kan?

Rang sudah mulai jalan ke air tapi ada sebuah tangan yang menahannya. Rang menoleh dan wajahnya kelihatan takut. Aboji..
Choi Won menyipitkan mata ke arah putrinya.

Anak2 tanya : Paman, apa anda benar2 menyembuhkan penyakit Yang Mulia Raja?
Choi Won bingung dan melirik ke arah Rang. Rang kelihatan bersalah. Choi Won akhirnya membenarkan, tentu saja, Yang Mulia disembuhkan. (Meskipun bukan oleh Choi Won haha)
Anak-anak jadi kagum, wah dia berkata sudah menyembuhkan penyakit Yang Mulia Raja. Mereka tanya, apa penyakit Rang juga sudah sembuh, apa dia bisa main dengan kami?



Choi Won melihat ke arah Rang. Rang kedip-kedip pada ayahnya dengan pandangan memohon. Tapi Choi Won tidak bisa bohong dan berkata, tidak. Putriku Rang belum sembuh benar.
Anak-anak jadi menganggap Rang berbohong, kukira ia sudah sembuh benar. Kau bohong. Kami tidak akan main dengannya lagi. Rang melihat ke arah ayahnya dengan wajah kecewa.

Istana
Semua tabib dan perawat istana bergegas lari ke kediaman Raja. Tabib senior Jang Geum keluar, ia mengatakan penyakit Raja dan memberikan tugas pada anak buahnya. Hernia Raja kambuh. Eun Bi, ambilkan bubuk jo gwak.
Gang ji siapkan Mil Jeon Do Beop (obat pencahar dari madu yang digoreng). Dimana Da In? Apa Da In masih belum hadir?

Hong Da In, perawat yang dicari Jang Geum sedang sibuk melakukan otopsi atas seorang wanita muda. Da In membuka maskernya, ini bukan pembunuhan. Polisi heran, itu tidak mungkin, ada memar di mayat itu.
Da In berkata wanita ini keracunan geum seok yak (obat mineral yang dibuat dari besi dan batu), bukankah ada memar di lengannya juga? Ini adalah..
Da In tidak bisa melanjutkan otopsinya karena ada panggilan darurat.



Jang Geum tidak bisa menunggu Da In lagi, ia menyuruh Han Bi lari ke dapur istana dan mengambil catatan dapur istana. Da In lari, Tabib Kepala Wanita! Ini adalah catatan tentang makanan Raja dari Dapur istana.

Jang Geum memeriksa catatan makanan Raja. Da In curiga ini adalah sakit perut. Raja batuk-batuk terus sejak pagi ini.
Raja sudah minum jus bunga doraji (platycodon grandiflorus) untuk meredakan batuk. Tapi masalahnya, siang ini Raja memakan daging babi atas permintaannya sendiri.

Jang Geum terkejut, apa katamu? Da In berkata bunga doraji dan daging babi saling bertentangan, Yang Mulia lehernya kaku dan menderita konstipasi dan jika Yang Mulia memakannya secara bersamaan maka..
Jang Geum menutup catatan dapur istana dan menyuruh anak buahnya memanggil Tabib istana Kim Hak Su untuk segera pergi ke kediaman Raja. Tidak ada waktu lagi. Jang Geum, Da In dan yang lainnya bergegas ke kediaman Raja.

Ratu Munjeong jalan ke kediaman Raja. Ia duduk dan melihat tabib istana memeriksa Raja. Jang Geum, Da In, Menteri Kim dan Menteri Yoon (Yoon Won Hyeong, adik Ratu) juga hadir.
Chun tidak mengerti kenapa bisa sakit perut, apa sebenarnya yang kalian berikan pada Yang Mulia yang lemah pencernaannya?

Jang Geum minta Menteri Yoon diam. Karena selama pengobatan akupuntur, mata, telinga dan pikiran tabib harus menyatu. Menteri Yoon akan mengganggu konsentrasi Tabib.

Menteri Yoon marah, bb..beraninya kau menyuruhku diam? Ratu Munjeong kelihatan kesal dengan Menteri Yoon. Tabib Kim melihat ke arah Jang Geum. Jang Geum mengangguk dan tabib Kim mulai mengeluarkan jarum dan ingin menusuk ke arah ulu hati Raja.

Tiba-tiba terdengar bentakan, Hentikan! Putra Mahkota Yi Ho jalan masuk. Semua Menteri, Jang Geum dan yang lainnya berdiri menghormat.

PM Yi Ho melarang Tabib Kim menusuk bagian ulu hati Raja dengan jarum, itu adalah bagian yang berbahaya. Tidak boleh ada kesalahan.
Menteri Kim menjelaskan, itu sebabnya ahli akupuntur terbaik RS Istana, Tabib istana Kim yang melakukannya.
PM Yi Ho : Tapi tangan Tabib istana Kim gemetaran.
Tabib Istana Kim menahan tangannya, ia berlutut, ampuni saya, saya pantas mati.

Ratu Munjeong minta Kasim mengeluarkan Tabib istana Kim dari kamar Raja. Menteri Kim menyuruh Da In memanggil Jeonuigam Ju Bu Min (Ketua Sekolah Dokter Istana dan Pejabat RS Istana tingkat 6) untuk segera datang.
PM Yi Ho menghentikan Da In, tidak. Panggil saja ahli akupuntur Bong Sa Choi

Menteri Yoon mencoba mencegah PM Yi Ho, Bong Sa Choi adalah orang yang tidak memiliki keahlian di RS Istana, itu sebabnya ia melakukan pekerjaan yang aneh.
Menyerahkan tubuh Yang Mulia yang sudah sakit parah pada orang yang tidak punya keahlian..

Jang Geum yakin Choi Won bisa melakukannya, ia minta Da In memanggil Choi Won, cepat panggil dia kesini.

Menteri Kim tidak setuju, Bong-sa Choi tidak begitu ahli. Lebih baik memanggil Tabib Istana Min yang juga merawat Yang Mulia ..
PM Yi Ho : Panggil Bong-sa Choi!

Choi Won sedang mengalami kesulitan dengan putrinya. Rang marah-marah kepada ayahnya. Ayah jahat! Aku tidak menyukai Ayah! Choi Won menarik Rang pulang.
Choi Won geli : Ya sudah, tidak apa-apa...tapi apa yang bisa kulakukan? Putriku adalah anak yang paling manis di Joseon.
Rang kesal, ia melepaskan tangan ayahnya : Aku juga ingin main. Aku ingin main bersama mereka.

Choi Won janji kalau ia sudah bisa menyembuhkan Rang dan Rang sudah lebih sehat lagi, maka Rang boleh pergi main.
Da In lari menemuinya, Tuan! Ada perintah agar anda segera masuk istana.  Rang lari dan Choi Won ingin mengejar Rang dulu. Tapi Da In menghalanginya : Ini adalah perintah Putra Mahkota.


Choi Won membungkuk di depan Raja dan Ratu. Ia berkata tidak bisa melakukannya. Ia tidak berani melakukan akupuntur pada tubuh Raja.
Ratu melihat ke arah PM Yi Ho. PM Yi Ho kelihatan kesal.



Jang Geum mendesaknya, kita mengejar waktu. Kau harus segera melakukan akupuntur untuk Yang Mulia.
Choi Won tidak berani melakukannya.

Menteri Yoon marah dan minta Ratu menghukum Jang Geum karena berani memaksa Choi Won untuk melakukan akupuntur pada Raja. Sebenarnya apa tujuannya? Ini adalah suatu penghianatan yang mengancam keselamatan Baginda.

Ratu Munjeong menghentikan Menteri Yoon : Apa maksudmu dengan penghianatan? Jaga bicaramu. Apa kau bermaksud mengatakan Putra Mahkota kita melakukan penghianatan?

PM Yi Ho tukar pandang dingin dengan Ratu Munjeong. Bukan rahasia lagi kalau kedua orang ini selalu bertentangan.

Jang Geum, Choi Won dan Da In jadi tegang. Di saat kritis itu, Tabib istana Min Do Saeng datang dan melakukan akupuntur untuk Raja. Untuk sementara semuanya bisa tenang. (Jabatannya Ju Bu, tabib istana senior tingkat 6)
Da In mengeluh pada Jang Geum, Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa anda seperti itu? Kalau tubuh Yang Mulia terluka karena Bongsa Choi Da Ri..

Jang Geum jalan dan minta seorang perawat menyiapkan  ramuan Ban Chong San (ramuan untuk menghangatkan perut) untuk Raja. Da In masih bicara dan mengikuti Jang Geum, tabib kepala! Kenapa Putra Mahkota mengijinkan Tuan Choi yang tidak memiliki kemampuan akupuntur dan membuat orang curiga masuk ke istana? Untungnya dia tadi tidak melakukan akupuntur untuk Raja. Dia juga tidak benar2 sakit saat ia ijin sakit hari ini. Dia cuma pura2 sakit.

Jang Geum hanya menjawab dengan singkat : Kalau kau ingin tahu, kau bisa tanya sendiri kepadanya. "Kenapa kau membuat orang tidak bisa mengerti dirimu?"
Jang Geum pergi. Da In menghela nafas.

Choi Won duduk sendiri. Choi Won mencabut rambutnya sendiri. Ia ingat kejadian masa kecilnya. Choi Won kecil menangis dan memohon pada PM Yi Ho.

Choi Won : Yang Mulia Putra Mahkota, saya mohon tolong selamatkan kakek saya. Jika Yang Mulia menyelamatkan kakek saya. Saya akan menjadi tabib istana dan akan berada di sisi Yang Mulia. Saya akan melindungi Yang Mulia seumur hidup saya!
Jadi..kakek saya.. tolong selamatkan kakek saya.

PM Yi Ho juga menangis bersama Choi Won, keduanya sudah berteman sejak kecil.


Tabib Min duduk di samping Choi Won. Choi Won nyengir, terima kasih. Kau tahu betapa cemasnya aku kalau kau tidak datang tepat pada waktunya, ya kan? Bagus kau bisa datang dan melakukan akupuntur itu.
Min Do Saeng : Jangan pura-pura lagi. Alasan Yang Mulia memanggilmu adalah..

Choi Won : Dia sudah gila. Aku terlalu waras untuk gila bersamanya.

Do Saeng mengingatkan Choi Won, kau adalah tabib istana di RS Istana, selama kita disini, kita bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan Keluarga Raja.

Choi Won tanya kenapa Do Saeng serius sekali. Kau jelas tahu masalahku. Choi Won minta Do Saeng berkata ke Putra Mahkota soal masalahnya, biarkan Yang Mulia mengasihaniku dan putriku. Agar tidak melakukan hal seperti ini lagi. Choi Won menepuk bahu Do Saeng dan jalan pergi.
Ternyata PM Yi Ho sudah berdiri di belakang mereka. Do Saeng langsung membungkuk.

PM Yi Ho bicara berdua saja dengan Choi Won. Ia kesal, kau jelas bisa melakukan akupuntur untuk Abba Mama. Kau jelas bisa menyelamatkannya, benar kan?
Choi Won berkata saat itu ia tidak punya pilihan. PM Yi Ho tidak percaya, apa kau pikir seorang tabib istana punya hak untuk menolak perintah kerajaan dariku?



Choi Won mengaku, baginya hidup putrinya lebih penting daripada hidup Raja. Alasan saya tetap di RS Istana adalah karena putri saya yang sakit-sakitan itu. Bisa menjadi tabib istana di Istana Timur (Istana Putra Mahkota) bersama Tabib Min dan dengan kepandaian tabib Min, dia bisa melindungi keselamatan Yang Mulia sendiri.
PM Yi Ho : Bukannya aku tidak mempercayai Tabib Min. Ini karena aku membutuhkan dirimu. Aku bermimpi tentang kakekmu semalam. Dia berharap aku bisa menjadi Putra Mahkota dengan selamat dan kelak akan naik takhta, kau tahu itu kan?
Sementara ada banyak serigala di seluruh istana yang ingin mengambil nyawaku. Kalau aku masih hidup sampai saat ini, itu semua karena perlindungan dari kakekmu.

Choi Won : Apa anda melihat tangan kakek saya dipotong dalam mimpi itu?
PM Yi Ho terdiam. Choi Won melanjutkan, kalau anda melihatnya, anda tidak akan memperlakukan saya seperti ini, benar kan?

PM Yi Ho : Saat itu, kakekmu..
Choi Won : Kalau anda memiliki rasa bersalah sedikit saja, tolong pura2 saya tidak ada lagi di dunia. Mulai sekarang, saya mohon jangan mencari saya lagi.

Choi Won membungkuk dan jalan pergi. PM Yi Ho memancingnya, Geumgwe buyeongbang. Kudengar kau membutuhkan buku kedokteran itu untuk menyembuhkan penyakit putrimu. Buku kedokteran yang kau inginkan...aku bisa memberikannya untukmu. Apa kau mau tetap di sisiku?
Choi Won kelihatan goyah sebentar, karena ia memang membutuhkan buku itu. Tapi Choi Won mengeraskan hati dan tetap pergi, tidak mau tergoda tawaran Putra Mahkota.


Choi Woo Young (adik Choi Won) dan Geum Ok (ibu tiri mereka), asyik merias diri. Geum Ok ingin mencoba pemulas pipi milik Woo Young dan ingin menukar dengan kosmetik miliknya. Woo Young menolaknya, ia sudah mencoba kosmetik ibu tirinya itu diam-diam dan kulitnya jadi merah.
Geum Ok : Apa? kau diam-diam sudah..
Woo Young baru sadar kalau Rang menghilang, dimana Rang? Kau melihatnya? Geum Ok merasa Rang mungkin keluar. Woo Young panik dan lari mencari keponakannya.

Woo Young bertemu Choi Won, kakak! Rang menghilang. Choi Won terkejut, apa?! Ia langsung lari mencari putrinya. Rang-ah! Rang-ah!
Choi Won menemukan pita milik Rang di tepi sungai, ia semakin kalut. Kemana putri kecilnya itu.
Hari semakin sore dan Choi Won masih terus lari menyusuri kota sambil teriak2 memanggil Rang. Ia naik ke atas bukit dan melihat Rang duduk di depan kuburan. Oh my..Rang pergi ke kuburan ibunya.
Choi Won lari dan menarik Rang, apa yang kau lakukan disini? Kau tahu seperti apa ayah mencarimu? Kau tidak boleh disini, ayo kita pulang. Ayah akan menggendongmu.

Tapi Rang menolak pulang. Choi Won bingung, kenapa tidak mau pulang? Kalau kau seperti ini, nanti kau bisa sakit, cepat, ayah akan menggendongmu.
Rang : Aku tidak mau pulang bersama Ayah. Setiap hari Ayah selalu menyuruhku minum obat dan menusukku dengan jarum akupuntur. Aku tidak bisa main bersama teman2ku karena badanku yang sakit-sakitan. Aku mau pergi dan bertemu ibu. Biarkan ibu datang dan membawaku pergi. Biarkan aku mati!

Choi Won syok lalu jadi marah, baiklah! Pergi, pergi, pergi sana! Kalau memang itu maumu, pergilah dan temui ibumu! Choi Won jalan pergi dan turun dari bukit. Ia benar2 kesal.
Rang jalan mengikuti Choi Won sambil marah2 : Aku benci ayah! Aku benci! Ayah! Ayah..aku membencimu! Lalu Rang tidak kuat lagi, suaranya melemah dan ia jatuh pingsan.
Choi Won tertegun, ia berhenti dan berbalik, Rang!

Choi Won membawa putrinya pulang. Ia mencoba menusuk tangan Rang dengan jarum akupuntur. Tapi Rang marah dan menarik tangannya. Choi Won mencoba lagi, tapi Rang terus menarik tangannya sambil melotot pada ayahnya.
Rang bahkan duduk dan mencabut semua jarum akupuntur di kakinya. Bibi Woo Young teriak, Rang apa yang kau lakukan?!

Kakek Rang masuk ke kamar itu dan memarahi Rang. Kau benar2 hebat, orang yang suka membenci hanya melakukan hal yang jahat. Apa sakit itu hebat? Apa kau merasa bangga?
Woo Young teriak ke ayahnya. Kakek Choi masih ngomel, apa yang sudah kau perbuat sampai kau bersikap seperti itu? Kau membuat ibumu pergi saat kau dilahirkan, dan sekarang kau akan terus membebani ayahmu sendiri.

Woo Young berdiri dan menyeret ayahnya pergi. Kakek Choi masih teriak kesal, putraku satu-satunya, tidak akan menikah lagi, hanya karena merawat anak perempuan sakit2an ini.
Choi Won minta ayahnya berhenti. Kakek tidak mau berhenti. Woo Young berhasil menyeret ayahnya keluar dari kamar Rang.

Kakek terus marah : Aku tidak mau berhenti. Rumah ini baunya seperti rumah bujangan. Apa kau pikir aku mengijinkanmu masuk RS Istana hanya untuk melihatmu seperti itu? Kau seharusnya membalas kematian tidak adil yang terjadi atas kakekmu.
Geum Ok juga menyeret suaminya pergi. Apa anda tidak lelah mengatakan itu setiap hari? Kakek masih teriak ke anaknya, kalau kau masih tidak mau menikah kali ini, kita putus hubungan saja! Geum Ok kesal, apa maksudnya putus hubungan? Ayo pergi dari sini.

Rang duduk dan merasa tidak enak, ia meludah. Tapi bukan ludah yang keluar melainkan darah. Rang panik sendiri. Choi Won juga syok, Rang..!
Rang reflek tidak ingin disentuh. Ia ketakutan, tidak! Aku tidak mau bertemu ibu. Aku tidak mau mati. Rang menangis.

Choi Won juga menangis. Rang terisak, Ayah...aku tidak mau sakit. Aku takut muntah darah, tadi..tadi..semua yang kukatakan adalah bohong. Aku tidak membenci ayah, aku tidak mau berpisah dengan ayah. Aku akan tahan meskipun harus ditusuk jarum akupuntur setiap hari, aku ingin bersama ayah selamanya.
Choi Won : Baiklah..putriku jangan menangis. Ini akan sangat sulit, tapi kau percaya dengan ayah kan?

Rang mengangguk sambil menangis. Choi Won memeluknya, kita pasti ..akan bersama selamanya. (hiks) Rang sakit TBC, kalau sekarang tidak masalah, asal rutin minum obat selama 6 bulan tanpa kendor, istirahat cukup dan makan bergizi pasti sembuh. Tapi jaman Joseon, itu penyakit mematikan.



Choi Won merebus obat sambil merenung, ia mencabut rambutnya lagi. Itu sepertinya kebiasaan Choi Won. Choi Won memikirkan tawaran PM Yi Ho, Putra Mahkota pasti bisa mendapatkan buku kedokteran yang dibutuhkan Choi Won asal Choi Won mau tetap berada di samping Putra Mahkota.
Ayah Choi Won muncul dan memberikan sekotak obat. Berikan ini pada Asisten Kepala Yoon Won Hyeong (adik Ratu Munjeong). Choi Won membuka bungkusan obat itu dan terkejut, bukankah ini tanduk yang mahal? barang semahal ini, bagaimana ayah..

Tuan Choi : Aku mendapatkannya dengan susah payah, jangan khwatir berikan saja padanya. Ini juga bermanfaat untuk anakmu.

Choi Won terkejut. Ayahnya mengancam, kalau Choi Won menolaknya, ia tidak akan mengatakan apapun soal buku kedokteran yang mati-matian dicarinya.
Choi Won : Maksud ayah Geumgye buyeongbang?

Choi Won minta sepasukan anak kecil yang disebut Dong Byeon Gun untuk pipis tepat di tempayan haha.
Mereka ini adalah anak2 yang sudah dipilih oleh kantor astrologi dan geografi istana dan pejabat istana untuk sengaja diambil air seninya untuk kepentingan pengobatan. Ewww...menjijikkan memang, tapi di Asia Timur ada pengobatan yang menggunakan air seni anak lelaki yang masih perjaka.

Choi Won memikirkan perkataan ayahnya. Ayahnya mendengar ada seorang penerjemah kembali dari Ming, Cina beberapa hari lalu dan membawa buku itu kembali ke Istana Raja. Terserah kau, bisa menemukannya atau tidak.
Choi Won sibuk dengan pikirannya sendiri dan anak2 itu tanya kapan mereka boleh pipis, mereka sudah tidak tahan. Choi Won geli dan memberi aba-aba untuk segera pipis. Anak-anak mulai berlomba. Choi Won ingin segera mencari buku itu, ia hanya pesan pada anak2 itu kalau sudah selesai, mereka harus membawa air seni mereka ke ruangan Do Yak Sa Ryeong di RS Istana, ok?! Choi Won langsung lari.

Choi Won masuk ke perpustakaan istana. Ia mencari ke seluruh rak, dimana sebenarnya? dia berkata ada di sini. Lalu Choi Won melihat Da In yang sedang membaca.
Choi Won bergegas mendekat dan memeriksa buku2 di meja Da In. Da In terkejut, apa yang anda lakukan? Choi Won tidak mendengar Da In, ia bicara sendiri, disini juga tidak ada.

Da In meninggikan suaranya, ada apa? Choi Won baru sadar dan ia melihat buku di tangan Da In, Choi Won ingin melihat buku itu, bisa aku melihatnya? Choi Won mengulurkan tangan ke arah buku tapi tanpa sengaja memegang tangan Da In (tentu saja wkk).
Da In terkejut, apa yang anda lakukan?
Choi Won panik, ia tidak bermaksud memegang tangan Da In. Jangan salah paham, ini karena aku terburu-buru. Choi Won mengambil buku itu dan membaca, Heo Yeok Jeung (penyakit melemahnya otot, contoh ada orang yang tidak bisa membuka matanya karena otot2 mata lemah, yah semacam itu) bukan ini.

Da In jalan pergi. Choi Won mengikutinya dan tanya, apa kau melihat buku kedokteran Geumgwe buyeongbang disini?
Da In hanya melotot pada Choi Won dan jalan terus.
Choi Won mengikutinya sambil tanya, kenapa ada di perpustakaan yang terlarang? Buku itu baru tiba di istana, kenapa dikirim ke perpustakaan terlarang?
Da In menghela nafas lalu berbalik, apa anda benar2 tidak tahu? Meskipun buku kedokteran itu sangat jelas dalam penyembuhan TBC, tapi lukisan tubuh wanita dalam buku itu juga sangat jelas, yang membuat orang merasa malu. Itulah sebabnya buku itu dilarang.

Won tidak mengerti, kenapa harus merasa malu, bukankah kita ini tabib?  Kalaupun ada gambar tubuh wanita yang begitu jelas, lalu kenapa?  Apa yang harus kulakukan? Aku mencoba sangat keras untuk mendapatkan buku itu. Saat kukira aku bisa membaca buku terlarang itu, semangatku benar2 terbakar sejak pagi ini.
Da In tidak percaya mendengar ini.
Won buru2 menjelaskan, tidak..aku tidak membacanya untuk melihat gambar wanita tanpa busana itu. Kenapa kau melihatku seperti itu?

Da In : Meskipun anda melihatnya, pasti akan sangat melelahkan untuk anda, saya dengar anda tidak bisa membedakan antara ginseng dan bunga doraji (akarnya memang mirip ginseng). Saya tidak yakin anda cocok dengan buku kedokteran itu. Anda seharusnya membaca buku kedokteran yang sesuai dengan standar Tuan.



Jika Tuan mau, saya bisa merekomendasikan beberapa buku untuk Tuan. Apa anda merasa tidak senang dievaluasi oleh tabib wanita seperti ini? Kalau tidak suka, saya harap anda bisa meningkatkan standar dan keahlian anda sebagai Tabib Istana.

Da In pergi. Won merasa tersinggung, tapi ia memutuskan untuk cuek saja, karena ada hal lain yang harus ia pikirkan, yaitu penyakit Rang.

 
Ratu Munjeong membersihkan badan dayang kediaman Raja. Dayang itu kelihatan tidak enak, saya mohon, turunkan tangan Yang Mulia.
Ratu : Kau sudah merawat Yang Mulia Raja sepanjang hidupmu dengan sangat telaten. Sekarang tubuh Yang Mulia Raja sedang tidak sehat, pekerjaanmu mungkin akan menjadi lebih berat.
Dayang : Tidak, sama sekali tidak. Tapi, Yang Mulia Ratu...Raja te;ah membuat keputusan.


Ratu menyuapi Raja dengan bubur. Raja berkata ke istrinya, ia sudah menjadi beban istrinya. Aku bahkan tidak bisa menjaga tubuhku sendiri.
Ratu : Bagaimana Yang Mulia bisa mengatakan hal seperti itu? Saya bersedia melakukan apa saja untuk Yang Mulia.
Raja ingin mengatakan sesuatu. Ratu menebaknya, apa maksud anda, Yang Mulia ingin turun takhta?

Raja : Bagaimana kau bisa tahu, Ratuku?
Ratu Munjeong pura2 mengerti isi hari Raja, bagaimana saya tidak tahu apa yang dipikirkan Yang Mulia? Yang Mulia segeralah menyerahkan takhta pada Putra Mahkota dan anda bisa istirahat dengan tenang. Dengan begitu, Yang Mulia bisa segera sembuh dari penyakit anda.

Ratu Munjeong mengeluh, ia merasa tertekan dengan orang2 yang selalu menuduh dirinya dan Gyeongwon Daegun (anak Ratu Munjeong) ingin merampas takhta dari PM Yi Ho. Kalau Yang Mulia turun takhta, Ratu dan anaknya bisa tidur dengan nyenyak. Anda sudah membuat keputusan yang benar.

Yoon Won Hyeong (adik Ratu Munjeong) berkumpul dengan beberapa orang yang tidak setuju dengan keputusan Raja yang ingin turun takhta lalu menyerahkan negara pada PM Yi Ho. Bagaimana Yang Mulia bisa membuat keputusan seperti itu?
Beberapa kroni Yoon adalah Jang Hong Dal (ayah angkat Da In) dan Menteri Kim Chi Young.

Ada beberapa pria mengenakan topeng yang berdiri diluar, mereka takut jika PM Yi Ho naik takhta, Putra Mahkota tidak akan melepaskan kami karena menyebabkan kematian Jo Kwang Jo. Tuan, apa kami boleh menyiapkan pasukan sekarang?
Menteri Kim minta semua orang bertopeng itu pergi.

Yoon Won Hyeong merasa tidak puas, sekarang bukan waktunya untuk bersikap tenang. Kita harus tetap mendukung Yang Mulia Ratu dan Gyeongwon Daegun. Yoon Won Hyeong langsung meninggalkan ruangan itu.

Menteri Kim : Bagaimana Yang Mulia Ratu bisa memiliki adik seperti dia?
Menteri Kim ingin Jang Hong Dal menyiapkan sesuatu. Jang memberikan sebuah guci dan membukanya untuk Menteri Kim. Menteri Kim puas.



Menteri Kim memanggil Tabib Min Do Saeng dan memberikan guci yang diberikan Jang Hong Dal. Bukalah.
Min Do Saeng membuka guci itu dan tampak syok, ia menjatuhkan tutup guci sampai pecah. Isinya benar-benar mengerikan. Cairan berwarna gelap dengan kepala burung yang kelihatan menakutkan.
Min Do Saeng : Daegam, ini..
Menteri Kim membenarkan, kau mengenalinya. Benar, ini adalah racun. Racun yang paling ganas dari semua racun dan bahkan tidak bisa dideteksi dengan peralatan makan perak. Aku susah payah mendapatkan racun ini yang hanya digunakan di dalam keluarga Raja Ming, Cina. Sekarang, kau yang akan memberikan hasil dari semua usahaku.

Min Do Saeng : Selama tahun-tahun ini, saya selalu mengikuti perintah Tuan untuk melukai Putra Mahkota, tapi ..ini..saya tidak bisa melakukannya.

Menteri Kim : Apa benar? Kau akan tetap melakukannya nanti. Aku akan mengatakan padamu kapan kau harus menggunakan racun ini.

RS Istana.
Semua tabib dan pejabat RS menghadiri meeting pagi. Menteri Kim memberikan ijin cuti pada tabib Istana Min yang sudah berhasil melakukan akupuntur untuk Yang Mulia Raja. Tabib Min diijinkan cuti sebagai penghargaan atas prestasinya.
Choi Won juga hadir dalam meeting itu, tapi pikirannya terpusat pada cara masuk ke Perpustakaan Terlarang untuk mencari buku kedokteran itu.

Tabib Min menyerahkan tanggung jawab menjaga kesehatan Putra Mahkota selama ia cuti pada Choi Won.
Choi Won masih di langit ke-7, ia sama sekali tidak mendengar isi pertemuan itu dan kelihatan bingung saat semua mata melihat ke arahnya.

Choi Won bingung dan menyenggol Min, apa? apa? Da In hanya menghela nafas.
Choi Won menimpakan kekesalannya pada astrolog istana. Choi Won marah karena pria itu pasti salah menulis jimat. Choi Won merobek2 dan melemparkan jimat itu ke muka astrolog itu. Won sudah minta jimat agar dijauhkan dari Istana Timur selamanya, tapi kenapa justru ia mendapat tanggung jawab untuk mengurus Putra Mahkota di Istana Timur? Kembalikan semua uangku!
Astrolog istana itu heran, benarkah? Kalau seperti itu, artinya kau dan Putra Mahkota memang ditakdirkan untuk tidak bisa berpisah. Jadi bagaimana kalau kau memanfaatkan dan menerima saja semua ini?
Choi Won tanya soal Perpustakaan Terlarang dalam istana, ada dibagian mana ruang itu? Astrolog itu tidak tahu, bagaimana aku bisa tahu? Coba tanya Tabib Istana Min. Ayah Tabib Min adalah petugas Gamyeokgwan yang memperbaiki istana, jadi dia pasti sangat hafal dengan seluk beluk istana.

Choi Won menemui tabib Min dan memujinya telah berhasil membuat hasil buangan (pup) Putra Mahkota dari tidak normal menjadi normal.
Min Do Saeng tahu, Choi Won-lah yang sudah menukar pup-nya yang normal dengan pup Putra Mahkota saat PM Yi Ho masih kecil (menjijikkan memang haha..tapi itu menunjukkan kedekatan Won dengan PM Yi Ho sejak kecil). Untuk membantunya bisa menjadi Putra Mahkota dengan sukses.

Choi Won terkejut : Kau..

Min Do Saeng : Kenapa? Apa kau pikir aku tidak tahu? Waktu itu, kalau pup-mu tidak normal, kakekmu pasti sudah menggunakan pup-ku (wkk, jangan sambil makan ya waktu baca ini).
Min Do Saeng memberikan resep obat yang dikonsumsi Putra Mahkota. Aku mengandalkanmu saat aku tidak disini. Won tidak mau menerima buku catatan resep itu, aku tidak akan di istana malam ini, karena aku akan kena flu yang sangat parah.
Tabib Min : Hei, Won..
Choi Won : Aku mencarimu untuk menanyakan lokasi Perpustakaan Terlarang.
Min Do Saeng : Perpustakaan terlarang?

Choi Won tahu, Do Saeng pasti tahu letak perpustakaan itu. Ada dimana bangunan itu? Ini menyangkut hidup dan matinya Rang-ku. Buku Kedokteran yang harus kulihat ada di Perpustakaan Terlarang itu.
Do Saeng mengambil kesempatan ini untuk negosiasi, kalau aku mengatakannya padamu, apa kau akan mengambil alih posisiku di Istana Timur?

Do Saeng bertemu seorang gungnyeo. Mereka  diam-diam pacaran. Gungnyeo itu bernama Wol Ha. Wol Ha heran, kau dapat ijin cuti? Bagaimana ..
Do Saeng ingat janji Menteri Min, habisi wanita Raja dan bunuh anak lelaki Raja. Setelah itu, aku akan memberikan rumah agar kau dan wanita itu bisa hidup bersama selamanya dengan aman.

Wol Ha curiga, terjadi sesuatu kan? Min Do Saeng menggeleng, tidak. Wol Ha, janji kita untuk bersama selamanya, apapun yang terjadi..aku hanya akan memikirkan itu, tidak akan memikirkan yang lainnya lagi.  Wol Ha menganggguk.


Rang masih batuk-batuk, ia mengamati hiasan jade milik ayahnya. Woo Young masuk dan memberikan obat untuk Rang, minumlah. Ayahmu berulang kali mengingatkanku agar kau meminum obat ini.
Woo Young terkejut saat melihat hiasan jade itu. Itu benda paling berharga milik ayahmu, kukira ia tidak akan mengeluarkannya sampai mati. Apa ia memberikannya padamu? Ayahmu benar2 menyayangimu.
Woo Young tiba2 panik, masker wajahnya retak haha..seharusnya aku tidak boleh bicara sebelum ini selesai. Woo Young berbaring.

Kakek Choi masuk ke kamar mereka. Kakakmu harus kerja lembur malam ini jadi ia tidak akan pulang. Ia minta Woo young membawakan baju ganti untuk Choi Won. Woo Young menunjuk ke arah wajahnya, aku sedang maskeran. Tapi ayahnya tidak peduli dan minta Woo Young bergegas.
Woo Young kesal sekali dan ngomel2 sendiri. Rang tertarik dan tanya apa bibinya akan pergi ke tempat ayahnya. Bibi pergi tidak?
PM Yi Ho duduk di kamarnya, ia ingat kejadian masa lalu. Saat Kakek Choi Won, Tabib Istana Choi Chang Son dituduh melakukan kejahatan serius dan harus dipotong tangannya. Ngeri.
Choi Won kecil lari dan teriak2, Kakek! Kakek!
PM Yi Ho kecil juga hadir dan melihat Won. Petugas selesai membacakan dakwaan dan melaksanakan hukuman. Mereka memotong tangan kakek Choi Won. Kakek Won teriak kesakitan, semua perawat istana menjerit ngeri dan Won histeris.

PM Yi Ho setengah mengigau. Kepala Pengawalnya masuk dan membangunkan PM Yi Ho, Choha. Choha! Apa anda baik-baik saja?
PM Yi Ho terkejut : Aku tidak apa-apa, aku tidak apa-apa. Pergilah ke Perpustakaan Terlarang untuk mengambil buku kedokteran.
Kepala Pengawal terkejut.

Choi Won menyelinap masuk ke perpustakaan terlarang. Menurut Tabib Min, lokasinya ada di bawah Perpustakaan istana.
Choi Won menemukan pintu rahasia, ia menggeser-geser kunci rahasia untuk membuka pintu itu. Choi Won bisa masuk ke ruangan tersembunyi itu.
Petugas perpustakaan mengeluh pada Kepala Pengawal PM Yi Ho, ini sudah malam, kenapa kau mencari buku itu?
Kepala Pengawal : Ini perintah Yang Mulia Putra Mahkota.

Choi Won mencari ke berbagai rak buku dan akhirnya ia menemukan buku kedokteran yang dicarinya, Geumgwe Buyeongbang. Choi Won mendengar suara orang. Ia segera mematikan lilin dan sembunyi.


Petugas perpustakaan dan Kepala Pengawal masuk. Petugas itu tidak menemukan buku yang diminta, ia bingung. Aku jelas meletakkannya disini. Kemana buku itu?
Kepala Pengawal marah, bukankah semua buku terlarang ada disini? Bagaimana caramu mengatur?
Petugas itu janji akan segera menemukan buku itu dan mohon agar tidak dilaporkan pada PM Yi Ho.

Choi Won mengendap-endap dan berusaha melarikan diri. Kepala Pengawal menyadari gerakannya dan mengejarnya.  Choi Won lari dan berusaha mencari tempat sembunyi.


Da In diam-diam merawat seorang gungnyeo remaja dalam gudang kain dan peralatan jahit. Dayang kecil itu berterima kasih karena Da In bersedia merawatnya, ia takut kalau ketahuan Dayang kepala. Da In minta anak itu tenang saja, dia tidak akan tahu. Kalau kau merasa cemas, penyakitmu akan memburuk.
Da In membuka sapu tangannya dan mengeluarkan bungkusan obat untuk gungnyeo itu, minum obat ini setelah makan, jangan lupa. Gungnyeo kecil itu melihat hiasan batu jade milik Da In, itu cantik sekali. Da In mengambil hiasan itu dan tersenyum. Gungnyeo itu heran, tapi kenapa cuma setengah?
(Wow..setengahnya lagi ada di tangan Choi Won. Getting more interesting here..)

Choi Won bingung mencari lokasi sembunyi. Ia masuk ke gudang kain itu dan jalan mundur. Tanpa sengaja tangannya mendarat ke sesuatu yang empuk wkk..Choi Won tanpa sengaja menyentuh pantat Da In, astaga...tangan ya..tangan.

Choi Won menoleh dan melihat Da In. Da In syok, ia ingin menjerit tapi mulutnya ditahan Choi Won. Won juga menutup mulutnya sendiri. Tapi karena panik, Da In menjatuhkan beberapa blok kain.
Kepala Pengawal langsung menghunus pedangnya, ia mendengar suara dalam gudang.

Choi Won berusaha mendiamkan Da In. Kepala Pengawal masuk dan memeriksa gudang, Won dan Da In menahan nafas. Kepala Pengawal itu melihat gulungan kain yang jatuh. Ia curiga, tapi tiba-tiba ada seekor kucing yang melompat dan Kepala pengawal mengira kalau suara tadi disebabkan oleh kucing. Won dan Da In selamat.
Choi Won menarik nafas lega. Ia baru melihat gungnyeo kecil itu. Won terkejut dan ingat saat Da In membaca buku kedokteran waktu itu.
Won : Apa kau sudah gila? dayang kecil itu menderita hae yeok jeong, ya kan? Jika dayang istana sakit parah, dia harus dikirim keluar istana. Bagaimana kau bisa merawatnya diam-diam? Kalau kau terus melakukan itu, kalau kau ketahuan..
Da In : Bagi saya, menyelamatkan nyawa itu lebih penting daripada aturan ketat istana. Jadi kalau anda tidak ingin mengajukan keluhan, tolong biarkan saja seperti ini.



Won awalnya tidak mau begitu saja melepaskan Da In. Tapi Da In melihat buku Geumgwe yang terlarang itu dari balik baju Choi Won. Da In balas mengancam, meskipun saya kena hukuman karena tidak melakukan apapun saat tahu anda mencuri buku dari perpustakaan terlarang itu, saya tidak akan mendendam pada Tuan.
Choi Won terkejut, siapa yang mencuri buku? Tapi Won sudah tidak bisa berkutik lagi, keduanya sekarang sama kuat. Masing2 punya rahasia. Da In ingin pergi, ia harus mengerjakan tugas dari Kepala Tabib Wanita Jang Geum.

Tapi Choi Won masih minta Da In segera mengirim dayang kecil itu keluar dari istana, kalau tidak, kalian berdua tidak akan selamat.
Da In : Anggap saja dayang kecil itu putri tuan, kalau dia adalah putri anda, apa yang akan Tuan lakukan? Sebagai seorang Tabib istana, sebagai seorang tabib wanita. Bukankah kita harus mengobati pasien dengan hati bagaikan orang tuanya?

Choi Won jalan dengan semangat, aku sudah mendapatkan buku ini, aku harus segera menemui anakku. Lalu ia menoleh ke arah istana PM Yi Ho. Ini karena Istana Timur sialan itu!
Da In jalan kembali ke istana, ia merasa sedikit cemas, Apa yang akan terjadi setelah aku memintanya menganggap dayang itu anaknya? Dia tidak akan melaporkanku kan? Tidak, Tabib Choi sepertinya bisa menjaga rahasia. Da In mendengar keributan dekat gerbang istana.

Rang ingin bertemu ayahnya tapi penjaga gerbang tidak mengijinkannya. Ha? malam2 seperti ini, anak kecil jalan keluar sendiri? Itu tantenya benar-benar keterlaluan.
Rang memohon, ajussi, aku benar2 tidak akan jalan2 di dalam, aku akan segera keluar setelah aku mengirim baju ini untuk ayahku, ok?

Penjaga itu tetap tidak mengijinkannya. Rang berkata ayahnya adalah tabib istana Choi Won, dia adalah tabib istana yang bisa menyembuhkan penyakit Yang Mulia dengan satu kali perawatan akupuntur. Dia adalah tabib yang paling hebat di istana.

Da In mendengarnya dan tersenyum. Rang masih negosiasi dengan penjaga gerbang.
Penjaga itu ingin mengusir Rang. Rang nekad lari ke dalam dan bersembunyi di balik rok Da In. Rang memandang Da In sambil kedip-kedip.
Da In geli dan berkata kalau ia mengenal anak itu. Da In akan bertanggung jawab atas Rang, tolong ijinkan dia masuk.

 
Yoon Won Hyeong memberikan bahan peledak pada anak buahnya. Ia ingin membunuh PM Yi Ho. Cepat bawa ini ke dalam, tidak boleh ada kesalahan. Sama sekali tidak!
Choi Won terpaksa melakukan tugasnya malam ini, yaitu mengantar tonik untuk PM Yi Ho. Choi Won melakukan tes dengan sendok perah untuk mendeteksi racun. PM Yi Ho tidak mempermasalahkan tonik itu, aku tidak tahu itu tonik atau racun, saat aku merasa ragu seperti itu, Kakekmu dulu berkata, selama pikiranku tidak goyah, racun pun akan berubah menjadi tonik obat. Tapi jika pikiranku goyah, tonik obat pun akan menjadi racun.

Meskipun ada racun di dalam tonik ini, tapi selama kau yang memberikannya untukku, aku akan meminumnya dengan senang hati.
PM Yi Ho mengambil tonik itu dan meminumnya sampai habis.

PM Yi Ho : Kau bertanya apa aku melihat tangan kakekmu yang dipotong dalam mimpiku, benar kan? Tentu saja aku melihatnya. setiap hari, setiap malam, aku melihatnya.
Bukan hanya tangannya yang dipotong. Darah yang membasahi halaman RS Istana...teriakan yang menyayat hati..

Choi Won gemetaran, hentikan.
PM Yi Ho tetap bicara, pandangan dingin yang diberikan kakekmu padaku...Kau, teman masa kecilku, kau melimpahkan semua kebencian dan kemarahanmu padaku..
Choi Won : Tolong hentikan.

PM Yi Ho : Berhenti? Kau berani menyuruhku berhenti? Hanya untuk mengelabui semua orang, orang yang memiliki keahlian terhebat dalam ilmu kedokteran, kau bahkan bersedia dianggap sebagai tabib bohongan/dukun di depanku.
Tidak. Aku tidak akan diam saja melihat semua ini.

Choi Won berkeras akan tetap seperti itu, ia tidak peduli dianggap sebagai dukun di RS Istana. Choi Won hanya ingin segera menyembuhkan Rang dan setelah itu ia akan meninggalkan istana ini.


Da In jalan masuk bersama Rang. Rang berterima kasih pada Da In. Da In heran, apa Rang benar2 datang sendiri di tengah malam seperti ini?
Rang mengiyakan, bibinya sebenarnya ingin pergi, tapi ketiduran. Lagipula Rang sudah beberapa kali ke istana dengan ayahnya. Jadi ia bisa pergi sendiri kesini.

Rang batuk2. Da In membungkuk, tapi tetap saja kau tidak boleh kesini sendirian seperti ini lagi, Nona kecil. Rang menunjukkan baju ayahnya dan berbisik, ia tidak suka dengan bau bujangan yang menempel pada ayahnya.
Da In heran : Bau bujangan?
Keduanya ketawa geli.

Seorang rekan Da in muncul mencarinya. Da In sudah pergi lama sekali. Jang Geum minta Da In mengambil obat sejak tadi, tapi kenapa Da In baru kembali sekarang.
Rang menoleh dan melihat sumbu peledak yang mulai dinyalakan. Rang tertarik melihat sesuatu yang mirip kembang api, ia jalan mendekat.

Da In masih bicara dengan temannya, apa Kepala Tabib benar2 marah? temannya membenarkan.

Rang mendekat ke arah peledak itu. Anak buah Yoon hampir pergi dan melihat Rang. Ia mengeluh dan jalan ke arah Rang, yah paling tidak masih ada sedikit rasa kemanusiaan.

Orang itu berhenti karena mendengar suara Da In mencari Rang. Rang-ah! bukankah kau harus menemui ayahmu? Rang mengiyakan.  Anak buah Yoon segera pergi.
Da in jalan pergi bersama Rang. Bersamaan dengan bunyi ledakan bom. Da In dan Rang terlempar, keduanya pingsan.

PM Yi Ho dan Choi Won ada di dalam kamar dan mereka syok. Api membesar dan mulai membakar istana Putra Mahkota. Semua panik, Seja Choha! Seja Choha!

Kapten berusaha masuk tapi api terlalu besar. Semua berusaha memadamkan api. Ratu Munjeong tiba di depan istana PM Yi Ho dan memandangi api.
PM Yi Ho justru tampak tenang di tengah kobaran api. Ia seperti tidak terlalu menggubris Choi Won yang panik dan berusaha mengeluarkannya dari situ.
Won teriak2, anda harus segera keluar! Anda harus segera keluar!

Choi Won menyeret PM Yi Ho keluar, apa anda ingin membunuh saya seperti ini? Saya tidak bisa mati seperti ini. Saya tidak mau mati!

Tiba-tiba daun pintu di depan mereka roboh. Ratu Munjeong berdiri di balik pintu itu. (Asli, ini jauh lebih ngeri dibanding lihat Sadako keluar dari TV)
PM Yi Ho juga terkejut : Omma Mama.

Ratu Munjeong jalan mendekat dan berkata dengan dingin, Ho-ya...kau harus mati.
Choi Won bingung, ia bolak balik melihat ke arah PM Yi Ho dan ke arah Ratu.

Notes :
Intinya, Raja Jungjong punya tiga orang Ratu. Dari Ratu kedua, ia memiliki PM Yi Ho. Setelah Ratu kedua meninggal, Raja menikah lagi dengan Ratu Munjeong. Ratu Munjeong memiliki beberapa adik, salah satunya Yoon Won Hyeong.

Ratu Munjeong melahirkan beberapa anak untuk Raja. Salah satunya adalah P.Agung Gyeongwon. Ratu Munjeong ingin takhta jatuh ke tangan Gyeongwon, padahal Gyeongwon masih kecil. Jadi Ratu ingin menyingkirkan PM Yi Ho.
Choi Won terjebak dalam situasi mengerikan itu, padahal satu-satunya tujuan hidup Choi Won adalah mencari obat untuk penyakit TBC yang diderita Choi Rang. Pelarian ayah-anak ini pasti akan menguras air mata sekaligus lucu.

Jang Geum dalam drama ini diceritakan sesuai dengan catatan tentang Jang Geum di buku sejarah. Tidak ada Min Jungho dll, Jang Geum adalah tabib istana wanita pertama yang ditunjuk Raja Jungjong dan terus ada di dekat Raja, bahkan catatan penyakit Raja juga cocok, khususnya yang tentang konstipasi itu :

October 25, 1544, when The Annals recorded a conversation between an Imperial Minister and Jang Geum on the King's health, which is rapidly deteriorating. Jang Geum was quoted for saying this:
"He (the King) slept around midnight yesterday, and has also slept for a short time at dawn. He just passed his urine, but has been constipated for more than 3 days."

October 26, 1544, when The Annals quoted this from the King:
I'm still constipated. What prescription should be made is under discussion. The female doctor (Dae Jang Geum) knows all about my condition." Later, Jang-geum explained her prescription for the king's symptoms to the ministers.


Preview ep 2
PM Yi Ho membutuhkan Choi Won kalau ia naik takhta nanti.
Da In berkata ke Won, kalau ingin menyembuhkan Rang, Won harus meningkatkan kemampuannya.
Da In menjatuhkan lilin. Won berusaha menangkapnya dan ups...Da in menimpa tubuh Choi Won.

P. Gyeongwon ada di istana PM Yi Ho. Gyeongwon ingin mencoba minum tonik PM Yi Ho. Menteri Kim teriak mencegahnya.
Tabib Min Do Saeng terbunuh dan Choi Won dituduh sebagai pelakunya.

Istilah aneh :
Mil Jeon Do Beop = menggunakan madu yang digoreng untuk obat pencahar.
Geum Seok Yak = Obat mineral dari batu dan besi.
Geup Che = Sakit perut karena sistem pencernaan yang terganggu.
Ju Bu = Tabib Istana senior tingkat 6
Bong Sa = Tabib Istana senior tingkat 8
Ban Chong San = Resep untuk menghangatkan perut.
Dong Byeon Gun = Kelompok Pelayan kecil yang khusus diambil air seninya untuk obat.
Hae Yeok Jeung = Otot yang melemah. Biasanya ke arah mata. Jadi salah satu kelopak mata tidak bisa terbuka.
Gwansanggam = Kantor astronomi, meteorologi dan geofisika ala Joseon.
Gamyeokgwan = Petugas junior tingkat 9 bagian konstruksi dan perawatan istana dari Gamdok.
Jeonuigam = Kantor pendidikan dan administrasi tabib. (sekolah dokter dan apoteker Joseon)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar